ZAMANoke.com-BAWANG merah merupakan salah satu komoditas prioritas pembangunan pertanian pemerintah saat ini. Produksi dan harganya yang fluktuatif, sering menimbulkan gejolak di masyarakat. Oleh karena itu, Pemerintah mencanangkan swasembada bawang merah pada 2016 dan menjadi negara pengekspor pada tahun 2019 nanti.
Namun kenyataannya dilapangan, kita sudah bisa melakukan ekspor bawang merah ke negara tetangga yaitu Thailand, Vietnam dan Timor Timur pada tahun 2017 ini. Ini adalah suatu prestasi yang perlu diacungi jempol. 
Untuk bisa mendukung target swasembada dan ekspor tersebut, tentunya harus ada sentuhan teknologi, dalam meningkatkan produksi dan produktivitas bawang merah tersebut, tetapi juga mampu menekan losses, meningkatkan nilai tambah serta daya saing produk bawang merah. Untuk itu, Balitbangtan dengan semua potensi yang dimilikinya, telah menghasilkan berbagai invensi maupun inovasi terkait komoditas bawang merah.  Mulai dari teknologi perbenihan hingga teknologi pascapanen dan pengolahan. 
Untuk implementasi teknologi tersebut, Balitbangtan menggandeng Pemerintah Kabupaten Solok, menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Januari 2017 lalu.  
Dan sebagai tindak lanjutnya, Balitbangtan  telah mengembangkan Kawasan Perbenihan dan Bioindustri Bawang Merah di Jorong Koto, Nagari Sei. Nanam, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok dengan bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Solok, untuk mensosialisasikan sekaligus meresmikan kegiatan pengembangan Kawasan Perbenihan dan Bioindustri Bawang Merah tersebut.
Launching dan sekaligus penandatanganan MoU tersebut dilakukan oleh Bupati Solok H. Gusma, SE, MM dan dihadiri oleh Anggota Komisi 4, DPR Dapil Sumatera Barat, Dr. Hermanto; Kepala Puslitbang Hortikultura Dr. Hardiyanto, dan Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Prof. Dr. Risfaheri; serta undangan lainnya.
Peresmian ini merupakan rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya, yaitu pembangunan Instore Dryer Kelompok Tani Bintang Timur, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Pengembangan unit olahan Bawang Merah, Bimbingan Teknis Penanganan Pascapanen dan Pengolahan Bawang Merah di Kabupaten Solok. Pengembangan kawasan perbenihan dan bioindustri bawang merah di Kabupaten Solok, dilaksanakan dalam rangka mendukung program swasembada bawang merah khususnya di Pulau Sumatera. 
Dalam peresmian tersebut diperkenalkan Teknologi Instore Dryer yang merupakan teknologi pengeringan dan penyimpanan yang telah dikembangkan oleh BB-Pascapanen, Teknologi perbenihan  bawang merah melalui TSS (rue Shallot Seeds) dan aneka produk olahan bawang merah, diantaranya minyak bawang merah, pasta bawang merah, bawang goreng, dan bawang iris kering.  

Dengan Aplikasi Instore Dryer, Petani Akan Tuai Keuntungan
Usaha tani bawang merah merupakan usaha yang sangat menguntungkan, namun memiliki risiko tinggi yang bisa menyebabkan kerugian yang besar. Kerugian usaha tani ini, pada aspek off-farm khususnya banyak disebabkan oleh kegagalan penanganan pascapanen yang mengakibatkan kehilangan hasil tinggi yang bisa mencapai > 20%. 
Titik kritis penanganan pascapanen bawang merah terjadi terutama pada tahap pelayuan dan pengeringan. Kegagalan dalam proses pelayuan dan pengeringan bawang merah menyebabkan kerusakan umbi berupa pertunasan, infeksi bakteri, busuk, dan hampa.
Kabupaten Solok, merupakan sentra produksi bawang merah terbesar di Pulau Sumatera dengan daerah penghasilnya berada Kecamatan Lembah Gumanti dan daerah sekitarnya. Daerah ini memiliki rata-rata suhu harian sangat rendah (18 – 20oC) dengan kelembaban relatif yang tinggi (80 – 90%) serta rata-rata hari hujan per tahun > 200 hari. Kondisi ini sangat menyulitkan dalam penanganan pascapanen bawang merah, sehingga untuk proses pelayuan dan pengeringan memerlukan waktu yang sangat lama, yaitu 15 – 20 hari, dan bahkan bisa mencapai 30 hari, kehilangan hasil tinggi, serta mutu bawang merah yang dihasilkan rendah.
Untuk menekan kehilangan hasil dan mempertahankan mutu, daerah ini memerlukan sarana pelayuan dan pengeringan bawang merah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah mengembangkan teknologi Instore Dryer yaitu teknologi dimana pengeringan dan penyimpanan dilakukan dalam bangunan yang atap dan dindingnya terbuat dari fiber transparan yang dilengkapi dengan roof ventilator. 
Dengan menggunakan dinding dan atap fiber akan terjadi efek rumah kaca dimana gelombang panjang dari sinar matahari dirubah menjadi gelombang pendek setelah melewati fiber sehingga dapat meningkatkan suhu di dalam instore dryer dibandingkan dengan suhu lingkungan. Roof ventilator berfungsi untuk memberikan sirkulasi udara dalam bangunan sehingga tidak terjadi akumulasi udara lembab. 
Instore Dryer juga dilengkapi dengan tungku pemanas sebagai sumber panas tambahan yang digunakan terutama jika cuaca kurang baik. Instore Dryer bawang merah yang dibangun di Kelompok Tani Bintang Timur, Nagari Sei. Nanam, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumbar merupakan hasil modifikasi dan perbaikan terhadap Instore Dryer yang telah dibangun sebelumnya, antara lain di Brebes Jawa Tengah
Berbagai manfaat yang dari telah dirasakan masyarakat dari introduksi Instore Dryer  bawang merah di Kelompok Tani Bintang Timur, Nagari Sei Nanam, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok dibandingkan dengan cara tradisional yang biasa dilakukan, adalah  proses pelayuan dan pengeringan bawang merah dapat dipersingkat dari 15 – 21 hari menjadi hanya 4 – 5 hari.  
Manfaat berikutnya bahwa  besarnya kehilangan hasil karena pertunasan dan busuk dapat ditekan dari sekitar 10% menjadi hanya < 1%.  Manfaat ketiga adalah tingkat  rendemen bawang merah kering tinggi (> 60%), sedangkan cara tradisional ± 50%. 
Manfaat selanjutnya bahwa mutu bawang merah meningkat dengan warna lebih merah dan mengkilat (tidak kusam), tekstur/kekerasan umbi sangat baik, serta aroma bawang (volatile reducing subtance) dapat dipertahankan, danyang kelima adalah berkurangnya biaya pelayuan dan pengeringan dari Rp. 800/Kg menjadi sekitar Rp 500,-/kg, Berbagai manfaat yang diperoleh tersebut, pada akhirnya bermuara pada peningkatan pendapatan petani bawang merah dan tentunya kesejahteraan petani. (hen)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top