Sumartono
ZAMANoke.com-SEPERTINYA, belakangan ini, maraknya kasus penistaan agama, justru dimamfaatkan untuk kepentingan politik tertentu. Contohnya, kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok. Diduga bagian dari strategi untuk menjegal Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada Pilkada DKI 2017 begitupun dengan kasus puisi sukmawati untuk pengalihan isu e-KTP. Demikian disampaikan oleh Sumartono.

“Dalam persidangan Ahok saya melihat tidak didukung faktor keilmuan yang kuat. Ini sangat tampak hanya manuver-manuver politik,” ujarnya. Menurut Sumartono, kepentingan politik terlihat saat adanya perbedaan keterangan ahli agama yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) dan tim pengacara Ahok, meski ahli agama yang dihadirkan sama-sama dari PBNU.

Diketahui, dua dari ahli yang dihadirkan JPU menyatakan Ahok bersalah. Sedangkan tiga ahli dari tim kuasa hukum terdakwa menyatakan Ahok tidak melakukan penistaan terhadap agama Islam.

“Ini menunjukkan betapa bahwa dalam kalangan ahli saja tidak adanya kesepakatan mengenai apa yang telah dilakukan Ahok. Jadi tidak ada konsensus sama sekali soal perkataan Ahok ‘dibohongi pakai surat Al Maidah’, dan konsep aulia dalam surat tersebut,” jelas Amin.

Dengan tidak adanya kesepakatan dari para ahli itu, ia menambahkan, maka kasus penistaan agama tak bisa dilepaskan dari kepentingan Pilkada DKI 2017. “Dengan dibawanya isu (Ahok) ini di bawah ke ranah hukum, ini tidak bisa ditutupi bahwa ini hanya kepentingan Pilkada, kalau ini benar masalah agama bisa diselesaikan dalam forum para ahli agama,” kata Amin.
Seperti yang disampaikan diatas, bahwa dua saksi ahli agama dari JPU mengatakan Ahok melakukan penistaan agama sementara saksi ahli agama yang dihadirkan tim kuasa hukum Ahok justru mengatakan Ahok tidak bersalah. Umat Islam pun terbelah menjadi dua, mereka yang merasa Ahok bersalah dan mereka yang mengatakan Ahok tidak menistakan agama.

“Saya bicara umat Islam keseluruhan, bukan umat Islam yang di klaim oleh musuh Ahok saja. Tapi keseluruhan muslim yang tercatat beragama Islam. Umat saja terbelah seperti itu, jadi saya bertanya-tanya keadilan ini nantinya untuk siapa? Jika memang benar-benar murni ini adalah kasus penistaan agama”, ungkapnya.

Tapi kenyataannya lain, kasus ini muncul karena Ahok dan Pilkada. Begitupun dengan kasus sukmawati yang kebetulan bertepatan dengan cuitan Setya novanto dalam sidang e-KTP  tentang keterlibatan Puan maharani yang juga anak dari ketum partai PDI-P dalam kasus e-KTP, yang seakan-akan disetting untuk pengalihan isu. Karena jika Ahok menistakan agama maka semua umat Islam harusnya marah.

“ Kita gak bisa bilang bahwa muslim yang tidak marah karena keimanannya rendah seperti Novel yang mengatakan bahwa warga Pulau Seribu keimanannya masih rendah. Kenapa? Karena banyak ulama-ulama yang mengatakan bahwa Ahok tidak menistakan agama. Buya Syafi’i, KH Ahmad Ishomuddin dan saksi-sakti ahli lainnya adalah sedikit contoh tokoh ulama yang mengatakan Ahok tidak bersalah. Berani mengatakan mereka rendah keimanannya?”, tambahnya.

Masih ingat, kasus “Prabowo titisan Allah” dan kasus “Mendesak Allah” saat masa-masa Pilpres 2014 sempat mencuat. Tapi tidak ada satu pun umat Islam yang protes, sempat sih tapi kemudian semua diam. Tidak ada demo 411, 212, hingga 313, semua hening. Bahkan MUI pun mengatakan bahwa tidak perlu berlebihan menanggapi masalah tersebut. Artinya, seharusnya kasus Ahok pun bisa seperti ini, ditanggapi dengan dewasa oleh semua umat termasuk MUI.

Jadi, memperhatikan fakta-fakta diatas maka jelas sekali bahwa ini bukan soal agama, ini soal Ahok dan Puan Maharani. Banyak alasan untuk membenci Ahok tapi yang paling utama dan paling nyata adalah karena Ahok benci korupsi dan kemunafikan. Itu ia sebut berkali-kali dan itu yang selama ini ia lakukan. Bahkan saat kampanye pun Ahok tidak mau berbohong, tidak mau munafik.

Sehingga, masalahnya sederhana, dimana Ahok yang kemudian menentang korupsi. Dan ada koruptor yang ingin korupsi. Lalu para koruptor ini menghasut rakyat, apa kelemahan Ahok? Dia minoritas ganda dan siapa yang bisa dihasut dengan isu minoritas ganda? Ya umat Islam yang unyu-unyu itu. Lalu muncul lah Pilkada sebagai momentum maka jadilah isu penistaan ini digoreng hingga crispy dan renyah, jelasnya.

Sepertinya, warga pun mulai sadar, aksi 313 yang jumlahnya tidak sebanyak demo-demo sebelumnya bisa menjadi gambaran tentang hal tersebut. Atau bisa juga jadi gambaran rekening para penyandang dana di bank. (Roby)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top