Oleh : Adrian Agus Dt. Kando Marajo
ZAMANoke.com-SIPATOKAH sebuah kaba atau dongeng yang sering diceritakan oleh orang tua-tua terdahulu kepada anak dan cucunya, meskipun cerita fiksi namun dari generasi kegenerasi pada umumnya masyarakat minangkabau tau dengan hikayat yang sarat dengan pesan-pesan moral ini,sehingga apabila ada seorang pemimpin yang sombong dan arogan tak ayal lagi masyarakat akan memberinya gelar rajo sipatokah.

SIPATOKAH, adalah seorang raja yang sombong, otoriter lagi lalim dan zalim terhadap rakyatnya, setiap hari kerjanya hanya mahariak-mahantam tanah membentak dan mencaci maki anak buahnya, perintahnya berapi-api sementara dia sendiri tak pandai mengerjakan apapun meskipun itu hanya hal-hal yang kecil dan sepele, tetapi karena setiap omongan nya tak pernah dibantah orang lain, lagak nya seakan dia orang yang paling pintar di dunia ini, padahal kalau dia sadar kenapa tak ada orang yang berani membantah omongannya, karena tiap hari yang mendengar otanya hanya anak buah dan rakyatnya saja’ yang sudah pasti tidak akan berani menjawab apalagi membantah, sehingga kondisi demikian membuat sipatokah semakin pongah dan sombong, terlebih lagi kalau ada anak buahnya melaporkan kejadian tentang kondisi rakyatnya, dengan nada tinggi ‘Sipatokah’ membentak, mauruih itu sajo ndak salasai dek ang doh, tamaik apo ang sikola dulu“ bentak sipatokah dengan sombongnya.

Konon, sebelum sipatokah diangkat menjadi raja, tiap hari sipatokah petantang – petenteng maota dengan pongah nya seakan semua persoalan dinegeri ini dengan mudah dia selesaikan, “ambo panggia daulaik kaduo nagari nan bamasalah tu, ambo suruah nyo barundiang salasai tumah…! Kalau indak namuah juonyo salasai ambo masuakan kaduonyo kabui“ baitu kiro-kiro ciloteh sipatokah sabalun diangkek manjadi rajo, tapi setelah sipatokah diangkat jadi raja, jangankan memanggil dua daulaik nagari yang bersengketa tersebut, puncak hidungnya pun tak kelihatan lagi di dua nagari itu.

Bila dilihat dari tampangnya, memang semua orang akan tertarik dan tertipu dengan penampilannya karena selain sipatokah ini berwajah tampan dan gagah sipatokah juga sangat pandai membual atau maota maka tak heran bila mendengar sipatokah maota banyak orang yang ternganga mulutnya, apa lagi saat sipatokah maota tentang masalah peningkatan ekonomi rakyat, semua yang mendengar pasti akan terkagum-kagum dan akan percaya dengan omongannya yang diringi dengan janji-janji yang manis, ditambah lagi istilah asing yang dipergunakan sipatokah yang membuat rayaik semakin yakin dengan ota sipatokah “nagari kito nan sabalah timua ko kito jadikan kota gadang kito bangun gaduang batingkek banyak-banyak dan nan sabalah baraik ko kito jadikan sumber ekonomi rayaik, kito tarukokan sawah salaweh-lawehnyo, nan patuik kito buekan ladang kito jadikan ladang, baniahnyo kito sadiokan, masyarakaik tingga maambiak hasia nyo sajo.“ sehingga masyarakat yang mendengar ota sipatokah jadi terbuai dan bermimpi bahwa sebentar lagi kita akan sejahtera dan kaya, begitu juga bila sipatokah maota tentang pembangunan, berbekal ilmu batukang yang dimiliki nya dengan lancar sipatokah menceritakan teori pembangunannya, diringi dengan gerak tangannya, bak seorang guru yang sedang  mengajar didepan kelas, seakan dengan sekejap mata kampung ini akan berobah jadi kota besar “kalau ambo diangkek jadi rajo, sado jalan ko ambo rancak an, tali banda sawahko ambo paelokan, pasa nagariko ambo jadikan pasa modern, buliah sanang amak-amak jo uniang-uniang ambo manggaleh dipasako,” demikian kira-kira janji sipatokah sebelum diangkat jadi raja.

Apa yang terjadi setelah sipatokah diangkat jadi raja, jangankan kesejahteraan yang didapatkan rakyat, tapi malah sebaliknya, ekonomi semakin susah, rakyat semakin menjerit, hama padi semakin menjadi-jadi, sawah kering kerontang, karena air igasi yang tak terurus, bendungan yang roboh tak di perbaiki, jalan-jalan banyak yang berlobang, jembatan pun sudah banyak miring alias redek, politik tidak stabil, masyarakat antar korong sering bermusuhan, kebijakan hanya berpihak bagi pengusaha besar.

Suatu hari istana sipatokah didemo masyarakat korong baruah, konon kabarnya ratusan masyarakat korong baruah itu datang beramai-ramai ke istana sipatokah guna menuntut lahan pertanian mereka yang telah dijadikan perkebunan oleh saudagar dari negeri seberang, namun janji saudagar itu tidak dipenuhinya kepada masyarakat, pada hal dulu saudagar dari negeri seberang itu difasilitasi oleh sipatokah bahkan dia berjanji dihadapan sipatokah, saking marahnya sebagaian dari rayaik jelata itu melempar kantor sipatokah dengan batu, tak pelak lagi istana rajo itu jadi centang parenang, kaca-kaca pecah, perabotan istana berserakan, bahkan ruangan sipatokah pun tak luput dari lemparan batu, dengan kondisi seperti itu tentu para dubalang dengan sigap menangkap para pendemo tersebut, namun dengan pura-pura berbaik hati sipatokah membebaskan dan tidak membuikan para pendemo tersebut, pasca kejadian itu disetiap lapau kopi bermacam penilaian yang diberikan rakyaik badarai itu kepada sipatokah, ada yang mengatakan sipatokah memang pemaaf, ada yang mengatakan sipatokah hanya pura-pura baik karena mungkin akan mencalonkan diri lagi menjadi raja dan ada juga yang beranggapan sipatokah sadar denganjanji-janjinya yang tidak terrealisasi “baa mangko pandeka gado istano rajo tu,…? “ tanya salah seorang bapak tua kepada salah seorang pendemo yang ikut tertangkap dan dilepaskan lagi itu, “lah manggapopoh darah den mancaliak rajo sipatokah tu, carito se nan gadang nyo kenyataan ndak basuo do,”  jawab pemuda yang bergelar pandeka bajau itu.

Menyimak sekelumit kisah rajo sipatokah di atas, penulis mengajak semua pembaca yang budiman untuk lebih hati-hati dan selektif menentukan pilihannya terhadap pemimpin yang akan memimpin negeri ini, jangan hanya tergoda oleh tampang atau tergiur mendengar ota para calon saat kampanye,  karena tidak lama lagi Indonesia yang kita cintai ini akan melaksanakan pemilu kada (Pemilihan Kepala Daerah) secara serentak seluruh Indonesia ,tentunya tidak ketinggalan sumatera barat dan semua kabupaten-kota yang ada, bahkan saat ini kendati pun jadwal pemilihan belum ditetapkan oleh KPU namun kita lihat sudah banyak baliho yang terpampang dipinggir jalan menghiasi setiap sudut kota bahkan batang kayu pun tak ketinggalan dihinggapi baliho dan foto calon yang mengaku dirinya paling pantas bahkan ada yang menganggap dirinya paling bisa. (**)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top