
ZAMANoke.com-Sepertinya, Pilkada kota Padang 2018 ini, akan kembali kehilangan semburan spirit dari darah muda, baik dari segi umur peserta Pilkada maupun isi bacotnya. Karena dari proyeksi yang ada, kandidat yang muncul sudah hampir dipastikan adalah tokoh-tokoh yang itu-itu saja.Perseteruan paling keras bakal terjadi antara petahana 01 (Mahyeldi - Walikota Padang saat ini) dan petahana 02 (Emzalmi-Wakil Walikota saat ini), yang keduanya sudah tak bisa lagi dibilang muda.
Bahkan, isi bacot dan isi kepalanya sekalipun, sangat jauh dari muda. Calon Wakil dari kedua yang bakal berseteru tersebut pun sudah hampir memasuki kategori itu. Hendri Septa, yang digadang-gadang sebagai figur muda, nyatanya akan berumur sekira 40 tahun saat Pilkada 2018 diadakan. Dan dipastikan, umur Destri Ayunda bertengger di atas itu.
Terkait soal istilah muda, yang membatasi diri pada peristilahan milenial, yang lahir di kisaran tahun 1980-2000 dan generasi setelahnya. Artinya, rentang umurnya sekitar 19-38 tahun saat Pilkada 2018 diadakan. Dan jika diperluas ke ranah pemilih, maka generasi Z akan terinklusi pula kepada pemilih pemula yang masuk kategori anak muda. Rerata secara nasional, pemilih muda (Y dan Z) diperkirakan berjumlah 55 persen total pemilih (Data SMRC). Sementara data BPS, khusus pemilih milenial saja sampai tahun 2017 sudah tercatat sekira 86 juta pemilih alias sekitar 48 persen dari total pemilih nasional (minus generasi Z).
Mungkin, untuk Kota Padang angkanya tak akan terlalu jauh berbeda. Pemilih milenial dan generasi Z akan bertengger di level 50 persen lebih. Nah, oleh karena itu kita pasti sepakat, angka tersebut bukanlah angka kecil. Lebih dari 50 persen pemilih muda bukanlah angka yang bisa dinafikan begitu saja. Jika dihadapkan dengan tingkat partisipasi politik pada Pilkada terdahulu, angka tersebut justru hampir sama. Dan apalagi untuk konteks Kota Padang yang memang sedari dulu banyak melahirkan pemuda-pemuda kritis plus melek politik. Lantas bagaimana jika generasi ini tak terwakili di dalam Pilkada tahun ini?
Apakah absennya tokoh muda, juga turut menjadi penyumbang ambruknya angka tingkat partisipasi pada Pilkada padang yang lalu, dan hanya tercatat sekira 51 persenan? Boleh jadi demikian. Konon, angka 49 persen yang absen di bilik suara ketika itu adalah anak muda sebagai mayoritasnya. Sekalipun itu baru sebatas asumsi, tapi cukup diyakini tidak akan terlalu jauh melenceng dari kenyataannya. Apalagi, baru berbicara tentang umur. Jadi, dalam konteks tersebut, hampir pasti generasi muda sebagaimana merujuk kategori generasional tadi, praktis tak berwakili di dalam kontestasi mendatang. Karena baik Petahana 01 dengan (calon) wakilnya, pun petahana 02 beserta sekondannya (yang juga bukan wajah baru), sudah bukan anggota kategori generasi Y, apalagi Z.
Kemudian, soal isu dan track record perjuangan. Keempat peserta potensial tersebut tak pula banyak terkait dengan isu anak muda millenial. Keduanya sama-sama di-lead oleh petahana yang pernah "sakasua sapatiduaan (sekasur setempat tidur) " dalam kinerja dan perjuangan. Sehingga saya menduga, barang siapa pun yang kemudian akan bertahta, romansa politiknya tidak akan jauh berbeda dengan yang ada sekarang dan sense of policy-nya pun demikian. Padang masih akan dimarwahi oleh zeitgeist ekonomi politik yang tak jauh berbeda dibanding periode sebelumnya. Padang masih akan disuguhi model pencitraan kebijakan yang sama, gaya kepemimpinan yang sama pula, yakni memakan sekenyang-kenyangnya liur-liur kekaguman masyarakat dari hasil kebijakan yang tak seberapa.
Andaikan, sekeras-kerasnya tenaga Mahyeldi untuk mewakili generasi Y dan Z, paling banter hanya bisa melakukan selfie bersama mereka. Dan saya memang nyaris tak pernah mendengar beliau memberikan "political stance" kepada generasi semacam itu. Bahkan, Mahyeldi lebih banyak mengobarkan spirit konservatifisme untuk membendung pergerakan generasi milenial, yang dicurigai akan melenceng dari khitah negeri. Kemudian Emzalmi, yang umurnya di atas Mahyeldi. Anak muda yang menjadi mayoritas pemilih tadi, praktis sama dengan anak dan cucu beliau. Disparitas dalam berbagai hal tentu tak perlu diingkari lagi.
Lalu, bagaimana dengan wakil-wakil mereka? Saya melihat marwah yang sama.
Keduanya adalah calon-calon wakil yang jarang saya temui ceritanya bersangkutan dengan anak muda. Yang satu pensiunan dari BUMN, yang lainya adalah anak dari politisi senior, yang semangat dan kiprah bapaknya terasa lebih kental ketimbang dirinya sendiri. Dengan kata lain, terlepas yang bersangkutan membranding diri, atau tepatnya memolitisasi diri, sebagai perwakilan anak muda, tapi saya rasa, itu hanya sebatas "Ota (obrolan kedai) ", tak lebih. Karena nyatanya, entah apa yang sudah beliau perbuat untuk anak muda dan entah isu utama apa yang beliau naikkan yang akan memosisikan dirinya sebagai salah satu tokoh yang pro pada kepentingan serta suara-suara anak muda.
Maka, lengkaplah sudah proses politik jelang pendaftaran calon peserta Pilkada Padang untuk tahun 2018. Jadi, Pilkada Kota Padang kali ini, adalah Pilkada para orang tua, karena Faldo sudah terdepak dari bursa calon walikota. Menurut saya, jika tingkat partisipasi merosot (tingkat partisipasi politik pada pilkada terakhir hanya 51 persen), mohon jangan diminta anak muda untuk introspeksi, tapi segeralah para orang tua untuk insyaf diri, dan memberi celah agar anak muda untuk muncul, sebelum dipaksa oleh keadaan untuk berperang dengan anak muda.
Karena, angka 49 persen yang tidak ikut pemilihan kepala daerah Kota Padang di laga terakhir adalah anak muda sebagai mayoritasnya. Semestinya menjadi pertanda bagi partai-partai beserta calon-calon yang berlaga yang kebetulan sudah bukan anak muda lagi untuk segera menyesuaikan irama. Pilihan yang itu-itu saja diperkirakan akan terus menekan tingkat partisipasi pemilih dan melestarikan apatisme politik warga pemilih Kota Padang.
Nah, siapapun pemenangnya, petahana 01 ataupun petahana 02, kondisi akan tetap sama karena mereka berdua telah memperlihatkan taringnya selama lima tahun ke belakang. Hasilnya, tak ada apa-apa, kecuali berbangga diri dengan citra pribadi masing-masing. Padang justru tak bergerak maju, semakin jauh tertinggal dari kota-kota besar lainya. Dan dengan peta politik jelang pilkada 2018, Padang nampaknya belum berniat "menjemput harapan" kemajuan yang lebih progresif lagi, tapi menjemput kesenjakalaan generasi tua untuk kota yang juga semakin tua. Semoga anak muda-anak muda Kota Padang tidak berdosa, dengan tetap membiarkan peta politik seperti ini terus berlangsung. (Roby).
0 komentar:
Posting Komentar