ZAMANoke.com-SEJAK lama, masyarakat Jorong Lubuk Gobing Nagari Batahan Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat, Sumbar, mendambakan pembangunan jembatan permanen. Namun ternyata sampai saat ini baru sebatas angan-angan dan bagai mimpi belaka yang tak kunjung tereralisasi.
Bahkan pasca putusnya Jembatan Gantung Lubuk Gobing akibat bencana alam banjir pada 11 Oktober 2018 lalu. Mengakibatkan kerugian besar dan perekonomian masyarakat Lubuk Gobing nyaris lumpuh. Warga berharap pihak pemerintah segera mengabulkan permohonan mereka untuk pembangunan jembatan permanen. Apalagi menurut pengakuan warga, setiap tahunnya mereka selalu mengajukan permohonan pada Bupati Pasbar dan instansi terkait.
“Sudah 13 tahun lebih kami selalu mengajukan permohonan pembangunan jembatan baru. Yakni sejak periode pertama kepemimpinan Bupati Syahiran tahun 2005. Tapi sampai sekarang belum juga terkabul. Saya dengar alasannya karena sangat besar biayanya dan tak sanggup pemerintah menganggarkannya dalam APBD, ujar Riski, salah seorang warga Lubuk Gobing.
Menurut Riski, sebenarnya, jika jembatan permanen dibangun, akan sangat menguntungkan bagi perekonomian masyarakat. Sebab hasil-hasil pertanian dan perkebunan lebih lancar untuk dipasarkan dan dibawa keluar kampung. Begitupun bidang lainnya, baik pendidikan dan kesehatan akan lebih cepat dapat pelayanan karena akses transportasi kian lancar.
Jika masih jembatan gantung atau rambin jelasnya, masih akan terkendala dalam lalu lintas perhubungan antara Lubuk Gobing dengan jorong tentangga dan pusat kecamatan. Sebab hanya dapat dilalui oleh kenderaan berupa becak dan kenderaan roda dua.
“Kami berharap, pasca putusnya jembatan ini akibat banjir, hendaknya pihak pemerintah akan segera menganggarkan pembangunan jembatan permanen. Walapun untuk sementara waktu dibangun dulu jembatan darurat. Tapi yang jelas jangan dibiarkan kami terisolasi berkepanjangan, “ pinta Yandara yang diaminkan M. Nur dan Aprinal serta didamping Kepala Jorong Lubuk Gobing, Nadir belum lama ini.
Nadir menjelaskan, akibat putusnya jembatan sangat berdampak negatif pada perekoniman warga karena transportasi jadi terkendala. Saat ini warga hanya dapat memanfaatkan Rakit untuk menyeberangi sungai.
Tak pelak lagi, ongkos angkut menjadi tambah besar. Untuk menyeberangi sungagai pakai Rakit atau Getek tarifnya Rp.5000/ kenderaan sepeda motor. Kemudian untuk angkutan orang tarifnya Rp.2000 per orang dan barang seperti sawit Rp.70/ Kilogram.
Disebutkan bahwa Rakit buatan warga secara gotong royong tersebuh beroperasi dari pukul 05.30 Wib pagi hingga pukul 11.00 Wib malam. Itupun jelas kepala jorong, resikonya sangat besar karena rentan terhadap bahaya, apalagi jika Sungai Batang Batahan membesar dan meluap jika msuim hujan seperti sekarang ini.
Masih menurut kepala jorong Lubuk Gobing, kesulitan lain yang dialami warga adalah dalam bidang pendidikan karena sekitar 200 orang anak disana sekolah di luar kampung terutama tingakatan SLTP dan SLTA. Mereka terpaksa antri untuk diseberangkan pakai Rakit dan jika pulang sekolah sering mereka terpaksa bermalam di kampung tetangga karena tidak berani naik Rakit ketika air sungai kian besar akibat hujan.
Sementara itu, Bupati Syahiran dalam kesempatan mengunjungi korban bencana alam itu menyampaikan, pemerintah daerah akan secepatnya melakukan percepatan penanggulangan bencana dan melakukan rehabilitas daerah yang terdampak bencana alam di Pasbar.
Bupati Syahiran telah melihat langsung jembatan Lubuk Gobing, yang terputus akibat terjangan banjir beberapa waktu lalu. Selain melihat kondisi jembatan yang putus, bupati juga memberikan sejumlah bantuan kepada korban banjir di kawasan tersebut berupa selimut, sarden, mie instan, beras dan lainnya.
“Kami merasa prihatin dengan bencana yang ada. Apalagi jembatan putus padahal adalah akses utama masyarakat,” kata bupati.
Menurutnya akibat terputusnya jembatan sepanjang 78 meter itu memang mengakibatkan masyarakat dan anak sekolah menyeberang memakai getek. Dia pun menegaskan kepada Dinas Pekerjaan Umum dan instansi terkait lainnya agar segera melihat kondisi jembatan itu dan membuatkan jembatan darurat sementara agar masyarakat tidak lagi menantang bahaya menyeberangi sungai.
Mengenai harapan masyarakat untuk mendapatkan jembatan permanen, menurut Syahiran sebenarnya telah pernah dianggarkan dalam APBD sebesar Rp. 6 milyar pada tahun lalu. Ketika itu direncanakan dibangun dari Jorang Muara Mais menuju Lubuk Gobing pada titik yang dianggap layak untuk dibangun. Namun akibat pro kontra warga tentang lokasi jembatan, maka pembangunannya terpaksa ditunda.
Maka bupati berharap jika ada kegiatan pembangunan seperti jembatan agar masyarakat memberi dukungan dan jangan mempersoalankan lokasi karena tujuannnya adalah agar akases perhubungan terbuka dan transportasi kian lancar karena diikuti juga dengan pembangunan jalan. (irz)
0 komentar:
Posting Komentar